Kebiasaan Murid SD Negeri 1 Tumpang “Salim” kepada Guru sebagai Bentuk Literasi Budaya

Dalam lingkungan pendidikan di Indonesia, budaya hormat kepada guru telah lama menjadi bagian penting dalam proses pembentukan karakter peserta didik. Salah satu wujud konkret dari budaya tersebut adalah kebiasaan murid salim kepada guru, yaitu memberikan salam sambil mencium tangan atau menempelkan tangan guru ke dahi. Kebiasaan ini bukan sekadar tradisi turun-temurun, tetapi juga merupakan bentuk literasi budaya yang perlu diperkenalkan sejak bangku sekolah dasar.

  1. Salim: Tradisi yang Mengandung Nilai-Nilai Luhur

Salim adalah kebiasaan khas masyarakat Indonesia, terutama di lingkungan sekolah atau pesantren, yang melambangkan:

  • Rasa hormat terhadap guru sebagai sosok yang membimbing dan mendidik.
  • Kerendahan hati serta pengakuan atas pentingnya ilmu.
  • Keakraban dan hubungan emosional positif antara guru dan murid.

Bagi anak-anak sekolah dasar, praktik salim menjadi media pembiasaan untuk memahami nilai sopan santun dan etika sosial yang berlaku dalam budaya Indonesia.

  1. Literasi Budaya dalam Pendidikan

Literasi budaya adalah kemampuan memahami, menghargai, serta melestarikan nilai, tradisi, dan praktik budaya yang ada di masyarakat. Di lingkungan sekolah, literasi budaya penting untuk:

  • Membentuk identitas diri dan kebanggaan atas budaya bangsa.
  • Menanamkan sikap toleran dan menghargai keberagaman.
  • Mengembangkan perilaku berkarakter, seperti hormat, santun, dan empati.

Dengan demikian, kebiasaan salim bukan hanya tindakan fisik, tetapi merupakan cara bagi sekolah untuk memperkenalkan dan menginternalisasikan nilai budaya kepada murid.

  1. Salim kepada Guru sebagai Praktik Literasi Budaya

Kebiasaan salim yang diterapkan di sekolah dasar dapat dianggap sebagai proses pembelajaran budaya yang berlangsung secara alami dan konsisten. Nilai-nilai yang diperoleh siswa antara lain:

  • Penghormatan terhadap Ilmu dan Pengajar

Melalui salim, siswa diajak memahami bahwa guru adalah orang yang perlu dihormati karena perannya sebagai penyampai ilmu. Ini selaras dengan nilai budaya Indonesia yang menempatkan guru pada posisi terhormat.

  • Pembiasaan Etika Pergaulan

Salim membantu siswa mempraktikkan etika berinteraksi dengan orang yang lebih tua. Mereka belajar mengucapkan salam, bersikap rapi, dan teratur saat bertemu guru.

  • Pelestarian Tradisi Lokal

Di era modern, banyak budaya luar yang masuk dan memengaruhi pola perilaku anak. Salim menjadi cara efektif melestarikan tradisi lokal agar tetap dikenal dan dipraktikkan oleh generasi muda.

  • Membangun Kedekatan Emosional

Salim menciptakan hubungan yang hangat antara murid dan guru. Hubungan positif ini berdampak pada semangat belajar dan kenyamanan siswa di sekolah.

  1. Peran Sekolah dan Guru dalam Menjaga Tradisi Salim

Agar kebiasaan salim benar-benar menjadi bagian dari literasi budaya, sekolah dan guru perlu:

  • Memberikan contoh langsung melalui sikap ramah, menyapa, dan terbuka kepada siswa.
  • Menciptakan kebijakan budaya sekolah, misalnya salam pagi atau “gerbang salim” ketika guru menyambut murid.
  • Mengintegrasikan nilai-nilai budaya ke dalam pembelajaran PPKn dan Pendidikan Agama.
  • Menjelaskan makna salim, bukan hanya mewajibkan tanpa memberikan pemahaman.
  • Melibatkan orang tua agar tradisi ini juga diterapkan di rumah.
  1. Dampak Positif bagi Perkembangan Karakter Murid

Kebiasaan salim kepada guru memberi dampak yang signifikan terhadap perkembangan siswa, antara lain:

  • Siswa lebih mudah diarahkan dan dihimbau.
  • Terbentuknya karakter sopan dan hormat.
  • Lingkungan sekolah menjadi lebih harmonis.
  • Meningkatkan rasa saling menghargai antarwarga sekolah.

 

Kesimpulan

Kebiasaan murid sekolah dasar salim kepada guru bukan hanya tradisi, tetapi juga bentuk nyata dari literasi budaya yang penting dalam pendidikan karakter. Melalui praktik sederhana namun bermakna ini, siswa belajar tentang hormat, sopan santun, dan identitas budaya bangsa. Dengan dukungan sekolah, guru, dan orang tua, tradisi salim dapat terus dilestarikan sebagai bagian dari pembentukan generasi yang berkarakter dan berbudaya.