Membangun Kebiasaan Beribadah Salat Dhuha di SD Negeri 1 Tumpang

Kebiasaan beribadah sejak usia dini merupakan salah satu fondasi penting dalam pembentukan karakter peserta didik. Di antara ibadah sunnah yang memiliki banyak keutamaan adalah salat dhuha. Banyak sekolah dasar di Indonesia mulai menerapkan program salat dhuha bersama sebagai bagian dari budaya religius di lingkungan sekolah. Program ini tidak hanya menanamkan nilai spiritual pada siswa, tetapi juga memiliki dampak positif pada disiplin, tanggung jawab, dan perkembangan moral mereka.

  1. Pentingnya Salat Dhuha untuk Anak Usia Dasar

Salat dhuha adalah salat sunnah yang dikerjakan pada pagi hari setelah matahari terbit hingga menjelang waktu zuhur. Meskipun hukumnya tidak wajib, salat ini memiliki banyak manfaat, antara lain:

  • Mengajarkan anak untuk terbiasa bangun pagi dan memulai hari dengan ibadah.
  • Menumbuhkan rasa syukur atas nikmat kesehatan, ilmu, dan kesempatan belajar.
  • Melatih konsentrasi serta ketenangan sebelum memulai kegiatan belajar.
  • Membentuk karakter disiplin melalui pelaksanaan ibadah secara rutin.

Pada masa sekolah dasar, anak-anak berada pada tahap perkembangan yang sangat baik untuk menanamkan kebiasaan positif. Oleh karena itu, penerapan salat dhuha menjadi sarana yang efektif membentuk kepribadian religius.

  1. Pelaksanaan Salat Dhuha di SD Negeri 1 Tumpang

Di SD Negeri 1 Tumpang setiap 2 minggu sekali pada hari jum’at selalu melaksanakan salat dhuha sebelum pelajaran dimulai, biasanya pada pukul 07.00–07.30. Pelaksanaannya dapat dilakukan secara berjamaah di halaman sekolah dengan didampingi beberapa guru.

Tahapan pelaksanaannya meliputi:

  1. Persiapan siswa: berwudu dan berbaris rapi menuju tempat ibadah.
  2. Pembiasaan doa bersama: membangun suasana tenang serta mendorong kekhidmatan.
  3. Pelaksanaan salat: umumnya dua rakaat, tetapi beberapa sekolah menyediakan waktu bagi siswa yang ingin menambah rakaat.
  4. Murojaah atau tausiyah singkat: memberikan pemahaman tentang akhlak, kedisiplinan, dan nilai-nilai spiritual.
  5. Refleksi: guru mengajak siswa merenungkan manfaat ibadah pada hari itu.

Kegiatan ini dirancang tidak hanya untuk beribadah, tetapi juga bagian dari pembelajaran karakter dan disiplin diri.

  1. Peran Guru dan Sekolah dalam Membiasakan Ibadah

Keberhasilan program salat dhuha sangat bergantung pada dukungan guru serta manajemen sekolah. Guru berperan sebagai teladan yang mengarahkan siswa, memberi contoh, dan menjaga konsistensi kegiatan. Selain itu, sekolah harus menyediakan sarana ibadah yang nyaman, jadwal yang teratur, serta sistem apresiasi yang memotivasi.

Strategi yang sering diterapkan sekolah antara lain:

  • Membuat program literasi religius dengan tema salat dhuha.
  • Memberikan penghargaan atau catatan ibadah untuk memotivasi siswa.
  • Melibatkan orang tua agar kebiasaan ini juga dilakukan di rumah.
  • Menciptakan lingkungan sekolah yang mendukung kebiasaan positif.
  1. Manfaat Jangka Panjang untuk Peserta Didik

Kebiasaan salat dhuha sejak sekolah dasar dapat memberikan dampak jangka panjang seperti:

  • Terbentuknya karakter religius yang kuat.
  • Meningkatnya disiplin dan tanggung jawab.
  • Meningkatnya ketenangan emosional dan kemampuan mengontrol diri.
  • Terciptanya suasana belajar yang lebih positif dan kondusif.

Dengan pembiasaan yang dilakukan secara konsisten, siswa tidak hanya mengenal ibadah sebagai ritual, tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup.

 

Kesimpulan

Kebiasaan beribadah salat dhuha di sekolah dasar merupakan langkah strategis dalam membentuk karakter religius dan disiplin siswa sejak usia dini. Melalui pembiasaan yang terprogram, teladan dari guru, dan dukungan sekolah serta orang tua, ibadah sunnah ini dapat menjadi pondasi yang kuat bagi perkembangan spiritual dan moral anak di masa depan.

Kembali →